Slide 1 Slide 2 Slide 3 Slide 4
Posted by Aji Celestia | 0 comments

Tentukan Dulu Gaji Anda


Step 1 : Making Your Own Business



Bisnis itu sesuatu yang rumit dan mudah? Tentu saja akan rumit kita kita tidak pernah mencoba untuk mempelajari dan memahaminya. Mulai edisi ini kami akan menemani pembaca yang punya hasrat besar untuk berbisnis, namun masih banyak bingungnya bagaimana memulainya dengan baik. Karena permulaan yang baik adalah kunci awal kesuksesan.


Apa saja yang harus disiapkan dalam memulai bisnis? Pertama bukan dengan ngurus izin, tapi buatlah rencana. Buat skenario sukses bisnismu. Rancang target waktu yang tak terlalu jauh atau terlalu dekat. Misalnya target 3 tahun kedepan. Pasang target gaji. Misalnya anda mau bergaji 3 juta. Setelah itu buat tahapannya misalnya tahun pertama gaji anda 1 juta, tahun kedua 2 juta, baru tahun ketiga anda bisa meraih 3 juta. Sekarang hitunglah bagaimana 1 juta pertama itu terwujud. 

Buka usaha dapatnya hanya 1 juta/bulan? Jangan lemes. Ini sudah cukup banyak bagi pemula kok. Secara umum, usaha yang baru dimulai biasanya belum mendapat laba di dua tahun pertama. Artinya 1 juta itu sudah prestasi hebat.

Rp. 1 juta pertama
Misal usaha Anda adalah bisnis kue. Taruhlah Anda ingin laba 1 juta/bulan. Jika Anda ingin mengambil laba 20%. Maka anda harus punya omset 10 juta. Jika kue yang anda jual harganya Rp. 500, maka anda harus menjual sedikitnya 10.000 kue. 

Tapi biasanya tak semua kue laku terjual. Maka 10 ribu kue tadi harus dianggap misalnya 50%nya, artinya kue yang diproduksi sekitar 20 ribu kue sebulan. Dibagi 25 hari kerja, maka harus dibuat 800 kue/hari (dengan harapan  400 kue laku), 800 kue itu bisa dititip ke 20 lokasi masing-masing menjual 40 buah kue. Supaya laku, tentunya anda harus menjual ke tempat yang strategis. Maka Anda harus tahu strategi distribusi bisnis.

Ilmu yang dibutuhkan
Dari hitungan diatas, maka kita bisa belajar menemukan masalah dalam bisnis. Nah, masalah itu coba kita antisipasi dengan persiapan matang. Misalnya, sbb :
1)      Kita harus tahu resep kue yang enak (keunggulan produk)
2)      Tahu cara agar makanan awet supaya masa jual lebih lama
3)      Tahu cara membuat kue kita menarik (kemasan)
4)      Harus membuat kue kita dikenal (marketing), karena kalo tidak dikenal bagaimana orang bisa punya niat membeli?
5)      Harus mencari toko penjual yang strategis (distribusi)
6)      Kita harus membangun relasi dengan si penjual (jaringan & komunikasi)
Agak rumit ya? J

Perlu modal tambahan?
Jangan lupa urusan keuangannya. Jika satu kue modalnya Rp. 300, maka Anda harus mempersiapkan modal minimal 240 ribu sebagai modal pembuatan 800 kue, ditambah biaya beli minyak goreng, gas dll

Supaya esok bisa tetap berproduksi, maka uang 240 ribu ini harus kembali. Jika tidak bagaimana? Jika tidak artinya usaha anda sudah bangkrut. Maka untuk memastikan produksi lancar anda harus punya dana cadangan. Taruhlah dana cadangan aman anda adalah 5 hari. Maka anda butuh modal berputar 240 ribu x 5 hari = 1,2 juta

Nah hitung-hitungan uang ini penting sekali. Agar Anda tidak hanya punya semangat tapi uangnya tidak cukup. Jika tidak cukup maka muncullah masalah kelima bagaimana mengakses modal tambahan. Yuk, mulai berbisnis!

@ajicelestia

Read more...
Posted by Aji Celestia | 0 comments

The 4 DX, karya monumental Sean Covey, Putra S. R. Covey


Stephen Covey memang telah tiada. Namun, sang putra, Sean Covey, tampaknya telah siap untuk terus mengibarkan nama Covey di jagat bisnis dengan tawaran konsep serta pendekatan praktis yang dibutuhkan kalangan korporasi. SWA berkesempatan mewawancarai Sean ketika meluncurkan buku The 4 Disciplines of Execution versi bahasa Indonesia, 12 Desember 2012. Berikut petikan wawancara dengan pria yang termasuk “New York Times best selling authors” ini.  

Bagaimana sejarah lahirnya konsep 4 Discipline of Executionatau 4DX? Berdasarkan survei Franklin Covey terhadap para CEO, ternyata tantangan nomor satu dalam menjalankan strategiadalah eksekusi.  
 
Apa yang kemudian dilakukan setelah tahu hasil survei itu? Kami mempelajari mengapa eksekusi gagal, apa yang membuat eksekusi berjalan dan berhasil.Dan, setelah lebih dari satu dekade, kami berhasil mengungkap “kode rahasia” kekuatan eksekusi yang kemudian menghasilkan 4DX. Jadi, 4DX merupakan formula menyelesaikan segala sesuatu di dalam perusahaan, khususnya mengenai aturan/ hukum dalam mengeksekusi. Konsep 4DX diperkenalkan sejak delapan tahun lalu, dan hingga kini kami masih terus memperbaikinya.

Apa sih empat hal dalam 4DX? Pertama, fokus. Ini hal yang mudah dan sederhana, tetapi tak ada perusahaan yang melakukannya. Kebanyakan perusahaan memiliki banyak target, 15 target misalnya. Atau, target selalu berubah. Hal pertama yang kami ajarkan adalah menetapkan hanya satu atau dua target dan membuatnya sangat jelas yang bisa dibuat formulanya. Kedua,act on the lead measures. Misalnya, jika ingin melakukan diet, lag measure-nya adalah kegemukan yang akan dikurangi dan lead measures-nya adalah pola makan dan olah raga. Dalam bisnis, kebanyakan perusahaan justru fokus pada lag measures. Ketiga, keep a compelling scoreboard. Setiap orang di perusahaan perlu tahu mengenai posisinya, apakah menang atau kalah dalam persaingan. Di Marriot, bahkan pelayan memiliki scoreboard sehingga mereka bisa mengetahui kinerja mereka, apakah sesuai dengan target atau belum. Keempat,create a cadence of accountability, misalnya melakukan pelaporan secara reguler atau rapat satu kali seminggu untuk mempertanggungjawabkan apa yang tengah dilakukan untuk mencapai targetnya.  

Apa kekuatan dan kelebihan 4DX dibandingkan konsep manajemen lainnya? Saya pikir tidak ada yang seperti 4DX di luar sana. Banyak buku membahas eksekusi, tetapi tidak ada yang seperti ini, ha-ha- ha... Kami pikir 4DX merupakan metode yang sudah terbukti untuk mengeksekusi. Salah satunya, Hotel Marriot.

Butuh berapa lama untuk mengimplementasikan 4DX? Tiga bulan hingga setahun untuk mendapatkan hasil maksimal.

Kapan perusahaan perlu menerapkan 4DX? Tidak ada keharusan mengenai kapan mengimplementasikan 4DX, apakah saat stagnan atau saat melejit. Idenya cukup sederhana:setiap organisasi pasti memiliki tujuan. Namun, permasalahan atau tantangannya adalah bagaimana mencapai targetnya secara konsisten.

Apa saja kesulitan saat menerapkan 4DX? Kata kedua dari judul buku ini : disiplin!  

Lalu, apa saja yang menyebabkan kegagalan? Banyak yang tidak fokus. Misalnya, seorang manajer yang menganggap dirinya kompeten dan ingin banyak melakukan sesuatu. Semua orang ingin melakukan banyak hal. Itu yang membuat orang sulit fokus. Lead measures juga hal yang sulit ditentukan. Mengenai scoreboard, terlalu banyak hal dalam scoreboard yang akan menyulitkan orang mengukur kinerja dalam hubungannya dengan mencapai target mereka. Penerapan 4DX sering hanya berhasil pada awalnya. Bagaimana menjaga agar momentum 4DX bisa terus dijaga? Mudah menjaganya. Kami melakukannya dengan menyertifikasi banyak manajer di dalam perusahaan sehingga perusahaan dapat menjalankannya sendiri. Saya pikir ketika Anda mengetahui dan disertifikasi mengenai 4DX, Anda tidak akan pernah sama dengan sebelumnya. Jika sebelumnya Anda memiliki banyak target, setelah mengenal 4DX, Anda akan tahu target spesifik anda. Anda juga tidak akan kembali menggunakan scoreboard yang rumit.(*)

Denoan Rinaldi dan Sudarmadi
Sumber : Majalah SWA
Read more...
Posted by Aji Celestia | 0 comments

Belajar Komunikasi Marketing dari Orkestra

Ketika Saya membaca beberapa buku yang membahas tentang komunikasi marketing, saya sangat tertarik pada salah satu pembahasan yang menyinggung teori harmonisasi orkestra terhadap marketing, sampai saat ini saya masih sangat penasaran dan tertarik untuk membahasnya, kata yang menarik menurut saya adalah kata “orkestra”, bagaimana mungkin orkestra bisa dihubungkan dengan teori komunikasi marketing?.     

Kalau anda pernah menyaksikan pertunjukan orkestra, tentu anda tau pertunjukan orkestra yang sangat menarik yang selalalu ditayangkan di salah satu stasion televisi, sebut saja acara Harmoni yang ditayangkan di SCTV, acara ini selalu ditunggu-tunggu oleh para penikmat music tanah air karna menghasilkan kualitas penampilan music yang sangat fantastis sehingga ketika acara ini tidak di tayangkan lagi banyak sekali masyarakat (penonton) yang meminta acara harmoni diadakan kembali yang akhirnya acara ini tetap di tayangkan oleh SCTV.     

Dengan bekal semangat mengetahui lebih jauh tentang orkestra ini, akhirnya saya mencoba mempelajari lewat internet tentang apa sih unsur-unsur yang ada dalam orkestra sehingga layak kita jadikan referensi untuk membangun komunikasi marketing dalam organisasi/perusahaan kita. Spirit Marketing dari waktu ke waktu.     

Kalau kita berbicara marketing yang terlintas dalam benak kita pasti beragam, mungkin ada yang beranggapan marketing itu adalah penjualan, marketing itu mengenalkan product, marketing itu sales, marketing itu menyebar brosur,poster atau tools lainnya, marketing itu menawarkan product atau jasa, marketing itu iklan atau bahkan marketing itu ada;alh iklan lewat internet. Tapi apapun yang anda pikirkan tentang marketing semua itu adalah bagian-bagian dalam marketing, anda benar! Semua itu adalah marketing.
     
Dari waktu ke waktu teori tentang marketing mengalami perkembangan yang sangat beragam, diambil dari sejarah munculnya konsep marketing dalam buku “Marketing Communication” yang ditulis oleh dr. Martani Huseini (2008) yang menerangkan bahwa di era 1950-an bermunculan konsep marketing mix, product life cycle, brand image, market segmentation, marketing consept dst.     

Konsep pemasaran yang mulai bersentuhan dengan media interaktif dan internet muncul di era 1980-an, yang pada waktu itu yang gencar adalah konsep marketing warfare, internal marketing, nichel marketing, global marketing, local marketing hingga direct marketing kemudian konsep ini semakin berkembang di era 1990-an diataranya online/cyber marketing.     

Hingga saat ini konsep marketing sudah sangat berkembang lebih jauh lagi sampai menyentuh pendekatan psikologis yang mengikat emosi pelanggan, social masyarakat bahkan sudah sampai menyentuh spiritual pelanggan, dalam istilah Hermawan Kartajaya marketing 3.1.     

Semakin beragamnya sifat dan karakteristik pelanggan semakin pula berkembang konsep marketing hingga saat ini, begitu pula konsep dan praktek marketing yang pernah saya lakukan di Sang Bintang school (SBS). Dari waktu ke waktu mengalami perubahan dan perkembangan konsep yang diterapkan, sebagaimana telah diketahui oleh sebagian tim SBS model marketing yang terapkan dimana kita kenal dengan “total marketing” yang mengerahkan segenap potensi marketing yang dimiliki, kemudian kita kenal juga “happy marketing” yang merubah mindset tim bahwa bermarketing itu bisa dimana saja, kapan saja dan melakukannya dengan happy, ada juga “aweek marketing” yang memusatkan aktifitas marketing di satu titik selama 1 minggu, kemudian “genius marketing”, dst.     

Beragamnya model marketing yang di munculkan itu semua karna semakin beramnya calon pelanggan SBS yang semakin hari semakin beragam dan SBS harus mengakomudir kebutuhan calon pelanggan tersebut, namun apapun itu, harusnya menjadi spirit bagi kita selaku tim di SBS untuk selalu melakukan inovasi unntuk membangun kesuksesan marketing, spirit marketing dan pembelajaran harus tertanam dalam diri tim untuk mewujudkan kesejahteraan cita-cita besar organisasi/perusahaan.

Belajar dari Orkestra     
Sejak saya bergabung di SBS dan melakukan bergaram aktifitas marketing, ada hal yang menurut saya sangat penting untuk dikuasai oleh tim yaitu komunikasi marketing (marketing communication), komunikasi marketing ini akan berjalan dengan apik jika ada aspek strategis didalamnya strategi komunikasi marketing (Strategic Communication Marketing).     

Beberapa bulan yang lalu saya membeli buku yang judulnya “Marketing Communication Orkestra” di Islamic Book Fair Malang, dalam buku itu dipaparkan konsep Strategic Marketing Communication yaitu segitiga emas Strategic Marketing Communication.     

Untuk memudahkan kolaborasi tiga elemen dari Strategic Marketing Communication yaitu strategi, pemasaran dan komunikasi, maka dari ke tiga elemen tersebut perlu memiliki sense of strategy, sense of marketing, sense of communication sehingga kemudian ini menjadi spirit yang terus bergerak dalam tim yang akhirnya mencapai tujuan marketing layaknya orkestra yang menghasilkan irama yang begitu merdu karna harmonisasi antara elemen didalamnya.     

Komunikasi marketing tidak hanya butuh skill individu dalam menjalankan aktifitas marketing terutama iklan, public relation, event organizer, costumer service, direct marketing, promosi penjualan bahkan internet marketing. Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah keselarasan atau harmonisasi, seperti orkestra music yang menghasilkan harmoni dan keindahan irama dalam music.     

Kemarin saya mencoba untuk mempelajari unsur-unsur penting dari orkestra melalui internet dan buku Marketing Communication Orkestra, ada 7 hal menarik menurut saya yang cocok untuk diadopsi dari filosofi orkestra yaitu satu dirjen, tematik, harmonisasi, berirama, spesifik, keterpaduan dan yang terakhir apresiasi. Ok saya coba paparkan satu per satu.

Satu Dirjen     
Dalam orkestra untuk menghasilkan tujuan bersama yaitu keindahan irama tidak ada pemimpin ganda, orkestra dipimpin oleh seorang dirjen. Nah, demikian juga seharusnya dalam sebuah organisasi/perusahaan, satu komando untuk mencapai tujuan bersama dan harus diikuti dengan ke Tsiqohan jundi (kepatuhan tim dibawahnya).

Harmonisasi     
Harminisasi dalam orkestra itu sangat penting untuk kesatuan dan keselarasan nada dan irama. Dalam komunikasi marketing juga seharusnya tercipta keselarasan dan kesatuan visi pencapaian antara tim, baik itu manajer, manajemen, tim pengajar, marketer dan juga tim pusat, kesatuan dan keselarasan itu bisa dalah hal tujuan, strategi, kebijakan, pemahaman product, dan juga media yang digunakan. Jika itu terjadi maka insyaallah akan terbentuk komunikasi marketing yang elegan.

Tematik     
Dalam orkestra pertunjukan yang ditampilkan bisa berupa music klasik atau music modern dan pada saat tertentu bisa menampilkan music etnik. Hal tersebut seharusnya sama juga diterapkan dalam komunikasi marketing yang hubungannya dengan inovasi product, sebuah organisasi/perusahaan harus bisa menjawab kebutuhan pelanggan yang semakin beragam, untuk mencapai pesan yang ingin disampaikan mengenai product maka cara dan komunikasi haruslah berbeda sesuai kebutuhan dan sasaran pelanggan.

Berirama     
Kalau kita perhatikan dalam orkestra tempo terkadang melambat dan tiba-tiba cepat lalu kemudian melambat atau lembut. Nah, begitupun seharusnya dalam organisasi/perusahaan dalam komunikasi marketing, mengatur irama kapan saatnya membangun citra, memanjakan pelanggan dan bahkan kapan harus berpacu untuk mendongkrak penjualan atau omset atau bahkan semua dilakukan beriringan.

Spesifik     
Tahukan anda kalau penggemar orkestra itu hanya dari kalangan tertentu saja?, tidak semua kalangan suka dengan music orkestra. Lalu bagaimana dengan program atau product sebuah organisasi/perusahaan? Tentu saja sama, oleh karena itu segmen yang dibidik harus sesuai dengan product kita dan tepat sasaran, sehingga hasil yang ingin dicapai akan maksimal, misalnya program SBS untuk dewasa “6 Minggu Bisa!” jangan sampai ditawarkan di sekolah-sekolah SD atau SMP tidak aka nada yang mendaftar, begitu juga segmen area atau wilayah sangat penting, misalnya area kampus, perumahan dst.

Keterpaduan     
Coba perhatikan dalam orkestra, Sikap tidak menonjolkan diri dan rendah hati sangat terasa diantara para pemain, coba kita bayangkan jika para pemain dalam orkestra saling menonjolkan diri yang main piano bermain sesuka hati, maka apa yang akan terjadi??.     

Begitupun dengan organisasi/perusahaan, tim yang terlibat didalamnya harus menjalankan fungsi kerjaannya sesuai dengan fungsinya masing-masing, jangan sampai terjadi saling merendahkan dan mengambil alih fungsi tim yang lain kecuali ada hal-hal yang sudah dikomunikasikan sebelumnya. Kalau keterpaduan ini terjaga insyaallah deh…

Apresiasi     
Coba deh kita perhatikan, sang dirjen biasanya mengucapkan ungkapan terima kasih kepada penonton atas partisipasi dan tepuk tangan sebagai respon aktif untuk menghargai penonton. Itu yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki program khusus untuk pelanggan customer rewards atau biasanya bagi-bagi hadiah sebagai bentuk penghargaan terhadap pelanggan yang loyal.     

Diakhir tulisan saya ini, saya ingin memberikan penekanan bahwa untuk mencapai tujuan bersama organisasi/perusahaan mengkomunikasikan tujuan ataupun program sehingga tercipta harmoni dan keindahan irama, visi dan omset, spirit-lah yang harus kita tanamkan dalam diri kita masing untuk selaluterus bergerak melakukan perubahan. Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh : Mohamad Iqbal, S,Si
Twitter : @ibelajegile
Email : m.iqbal_sbs@yahoo.com
Web : www.IQBALajegiLe.blogspot.com
Read more...
Posted by Aji Celestia | 0 comments

4 assumptions of Stephen R. Covey on mind, body, heart, and spirit

I have also found that by making four simple assumptions in our lives we can immediately begin leading a more balanced, integrated, powerful life.

They are simple–one for each part of our nature–but I promise you that if you do them consistently, you will find a new wellspring of strength and integrity to draw on when you need it most.

1) For the body–assume you've had a heart attack; now live accordingly. 

2) For the mind–assume the half-life of your profession is two years; now prepare accordingly.

3) For the heart -assume everything you say about another, they can overhear; now speak accordingly.

4) For the spirit–assume you have a one-on-one visit with your Creator every quarter; now live accordingly.

Stephen Covey (Source: The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness)
Watch here : http://youtu.be/_Yf3Sh-zwAQ
Read more...